Perempuan yang baru saja memanggil namaku bergegas menghampiri. Roda koper putihnya berderak melintasi aspal yang tidak rata. Belum ada setahun sejak terakhir kami berjumpa, tapi rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat Nishijima Misaki.
“Maaf, kau sudah lama menunggu?” sambutku sambil membantunya menggeret koper ke sisi lain jalan.
Misaki menggeleng, kemudian tersenyum sangat lebar. “Kyou-san tidak ikut?”
Ryuji terkekeh, kemudian terdiam untuk beberapa saat sampai aku memeriksa ponselku untuk memastikan kami masih tersambung. Dia baru kembali bersuara ketika aku memanggil namanya kembali.
“Iya. Lucu juga, ya? Kukira setelah aku mendapatkan pekerjaan, aku akan bekerja di sini untuk waktu yang sangat lama,” ujarnya dengan lesu. “Tapi kau tahu, Akari-san? Beberapa minggu yang lalu aku bertemu dengan salah seorang teman lamaku, dan setelah mendengar tawarannya bergabung dengan perusahaannya, kurasa aku akan mengiyakannya.”
Aku menoleh ke arah Kyouhei, yang baru saja selesai memasukkan piring-piring ke dalam lemari. Dia berdiri termenung di sana, membelakangiku. Aku pun berhenti menyapu lantai Shirokuma Bistro dan menghampirinya dengan penasaran.
Jujur, aneh rasanya membuka blog ini lagi setelah sekian lama vakum posting. Bagaimana tidak? Terakhir kali ada tanda-tanda kehidupan di blog ini, ya sekitar setahun yang lalu. Kalau ditanya apakah masih ada pembaca yang mau membaca ocehanku di sini, aku juga kayaknya nggak bisa jawab.
Tahun sudah berganti, dan berhubung banyak banget teman-teman pembaca yang DM aku di Instagram dan nanyain kabarku: kabarku baik.
Tahun lalu mungkin nggak sepenuhnya berjalan dengan lancar; aku sama sekali nggak produktif nulis, sempat stress juga dengan kerjaan kantor yang berubah drastis karena akunya dipindahtugaskan, dan masih banyak lagi kejadian-kejadian yang lumayan membuat pusing. Tapi aku masih di sini—masih hidup (untungnya), masih berjuang, dan masih mencoba menulis meski banyak banget halangannya.
Kalau ditanya kenapa, alasannya banyak: kerjaan yang menggunung, baju kotor yang menunggu dicuci, bahan makanan yang menanti dimasak. Kalau saya diberi waktu untuk menjelaskan kenapa saya nggak mood nulis, saya rasa saya bisa menghabiskan setengah jam sendiri untuk mencoba menjelaskannya.
Tapi, terlepas dari jawaban yang keluar dari mulut saya, alasan yang sebenarnya ternyata jauh lebih sederhana dari yang orang-orang pikirkan: saya malas.
Malas apa? Ya malas menulis. Malas memikirkan premis cerita baru. Malas menjalani proses riset yang bukan main panjangnya. Malas merunutkan ide dan adegan cerita. Malas menghabiskan cuti untuk menulis draf satu naskah. Malas melakukan swasunting. Malas mengirimkan naskah ke penerbit. Malas menunggu catatan revisi dari editor. Malas menentukan judul, menulis blurbbuku, dan malas berdiskusi panjang untuk menentukan konsep desain sampul buku.
Seperti hari-hari lainnya ketika kota Jakarta diguyur hujan, orang-orang mulai sibuk memikirkan bagaimana cara mereka pulang. Bagi yang rumahnya jauh, mungkin mereka akan mengkhawatirkan jalanan yang ramai. Bagi yang rumahnya dekat dengan kantor sekalipun, hujan bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Continue reading “Skenario Pertemanan Optimis”→
This excerpt is something I wrote back in 2015, but have been neglecting ever since. Part of the reason was that I didn’t know where to take the story; I didn’t think of the premise or concept when I started writing it. Unfortunately, the gullible practice turned out to be so interesting and I ended up saving the draft on my computer, only to forget all about it later.
I haven’t decided on what should I do with the story. Should I abandon the project, or should I attempt to finish the story? Do let me know what you think about it! 😉
***
Mobil yang membawa kami pergi dari Jakarta hari itu melaju dengan sangat perlahan. Aku masih bisa melihat awan yang berarak di langit biru saat itu, seolah segalanya baru terjadi kemarin. Diriku yang masih berusia sepuluh tahun mengintip dari kaca jendela mobil, melihat gugusan bangunan yang mungkin tidak akan kulihat lagi untuk waktu yang sangat lama.
Also keep your eyes open for GIVEAWAYSin the near future! I will be sure to post updates either on my Twitter, or my Instagram.
Last but not least, I’d like to extend my gratitude to everyone for being with me on this journey from the very start. I remember announcing the project on Twitter, venting my frustration during my self-edit process, and even holding a poll to decide the cover for this book. Even more so than being my manuscript, UNSPOKEN WORDS has evolved into something that could never see the light of day without everyone’s help.
This is a very big news for me, so I hope you’re as excited as I am in awaiting UNSPOKEN WORDS‘ release.