Perihal Rasa Malas

Belakangan ini, saya lagi nggak mood nulis.

Kalau ditanya kenapa, alasannya banyak: kerjaan yang menggunung, baju kotor yang menunggu dicuci, bahan makanan yang menanti dimasak. Kalau saya diberi waktu untuk menjelaskan kenapa saya nggak mood nulis, saya rasa saya bisa menghabiskan setengah jam sendiri untuk mencoba menjelaskannya.

Tapi, terlepas dari jawaban yang keluar dari mulut saya, alasan yang sebenarnya ternyata jauh lebih sederhana dari yang orang-orang pikirkan: saya malas.

Photo by Thom Milkovic on Unsplash

Malas apa? Ya malas menulis. Malas memikirkan premis cerita baru. Malas menjalani proses riset yang bukan main panjangnya. Malas merunutkan ide dan adegan cerita. Malas menghabiskan cuti untuk menulis draf satu naskah. Malas melakukan swasunting. Malas mengirimkan naskah ke penerbit. Malas menunggu catatan revisi dari editor. Malas menentukan judul, menulis blurb buku, dan malas berdiskusi panjang untuk menentukan konsep desain sampul buku.


Kalau ada yang bilang ke saya bahwa saya akan malas menulis sekitar dua puluh tahun yang lalu, mungkin saya akan menganggap orang itu gila. Seorang saya, malas menulis? Sementara 80% kegiatan saya di sekolah adalah mencuri-curi waktu untuk menulis? Mustahil.

Sejujurnya, ini bukan pertama kalinya saya merasa nggak mood nulis. Yang paling lama, saya pernah vakum menulis selama hampir tiga tahun lamanya. Alasannya, setelah saya ingat-ingat, mungkin karena saya (akhirnya) sadar bahwa tulisan saya memiliki kualitas yang sangat buruk.

Beberapa orang yang mendengar alasan saya ini sering tertawa mengejek. Saya? Memiliki kualitas tulisan yang sangat buruk? Lalu bagaimana caranya saya bisa menerbitkan buku? Bagaimana saya bisa menjelaskan kepada pembaca-pembaca saya yang sering berkorespondensi dengan saya melalui surel maupun DM Instagram?

Sebelum saya dihujat, saya perlu menegaskan bahwa saya tidak menganggap tulisan saya tidak layak dibaca. Hanya saja setelah saya membaca buku-buku yang dilahirkan oleh penulis-penulis lain, terutama penulis-penulis dengan jam terbang yang jauh melampaui saya, saya jadi merasa minder.

Tapi saya masih bisa merasionalkan alasan tersebut; semua seniman, baik itu penulis, penyanyi, pelukis, dsb., pasti pernah merasa karya seni mereka tidak cukup. Membandingkan diri sendiri dengan pencapaian orang lain itu merupakan sebuah tindakan yang wajar dilakukan. Tidak sehat, memang, namun wajar.

Lantas, mengapa saya merasa begitu terganggu dengan ke-nggak mood-an saya menulis, meski saya pernah merasakannya sebelumnya? Saya rasa karena alasannya kali ini sedikit berbeda.

Ketika saya membandingkan diri saya dengan penulis-penulis hebat di dunia, saya melakukannya karena saya ingin bisa menyamai mereka. Ada sebuah keinginan di sini—sebuah keinginan untuk menuliskan sebuah karya yang begitu bagus, yang akan dibaca oleh sebanyak-banyaknya pembaca di muka bumi. Cara dan konsekuensinya mungkin sama sekali nggak ideal, namun setidaknya perasaan minder ini disebabkan oleh sebuah keinginan untuk menjadi penulis yang lebih baik.

Tapi sekarang? Jangankan minder. Membandingkan diri sendiri dengan penulis lain pun, saya malas.

Ada sebuah kutipan yang saya baca di Instagram: write with purpose; menulislah dengan sebuah tujuan. Entah kenapa, saat saya membaca kalimat itu, saya merasa sedikit tersindir.

Jujur saja, di penghujung tahun 2020 saya sempat menyelesaikan sebuah naskah. Pembaca-pembaca yang mengikuti saya di Instagram mungkin akan mengenal proyek ini dengan nama Project Smoke. Beberapa dari mereka bahkan ada yang bertanya langsung—apa yang terjadi dengan Project Smoke? Mengapa saya menghapus Project Smoke dari Instagram Stories Highlights saya?

Jawabannya sederhana, dan sejujurnya baru bisa saya rangkum menjadi sebuah kalimat yang masuk akal ketika saya menuliskan artikel ini: karena saya nggak benar-benar ingin menuliskan naskah itu.

Tanpa berusaha membocorkan alur ceritanya, Project Smoke adalah sebuah cerita yang berlatar kota metropolitan. Alurnya pun sederhana; mengenai seseorang yang jatuh cinta kepada orang yang salah. Sebuah premis yang sudah sangat sering didaur ulang, saya akui, namun entah kenapa selalu disukai oleh pembaca dari segala kalangan.

Project Smoke adalah sebuah karya yang sudah “selesai”. Salah seorang rekan penulis saya, sekaligus salah seorang sahabat yang sangat saya percaya opininya, bahkan mengatakan bahwa naskah tersebut layak diterbitkan. Naskah tersebut berbeda dari cerita-cerita Alicia Lidwina yang lainnya, namun sangat layak untuk diterbitkan.

Tapi ada beberapa kendala yang harus saya hadapi untuk menerbitkan naskah tersebut. Pertama, dan yang paling besar, adalah saya menulis naskah tersebut 100% dalam bahasa Inggris. Mengingat sebagian besar pembaca saya adalah orang Indonesia, ini terdengar seperti sebuah keputusan yang sangat bodoh, bahkan bagi saya sendiri.

Kedua, naskah ini mengupas tema-tema yang sedikit gelap dan kontroversial untuk ranah fiksi Indonesia. Tema-tema yang, jujur saja, membuat saya merasa tidak nyaman untuk menuliskan, apalagi menerbitkannya menjadi sebuah buku.

Lalu mengapa saya memutuskan untuk menulis cerita ini? Sederhana saja: saya merasa saya perlu menuliskan sebuah cerita baru, karena waktu terus bergulir dan banyak sekali pihak yang bertanya kapan saya akan menelurkan karya baru.

Karena alasan sesederhana itu? Ya. Karena alasan sesederhana itu.

Mungkin tanpa sadar, saya sudah menolak untuk menerbitkan ide cerita itu dari awal. Makanya saya menuliskannya dalam bahasa Inggris. Makanya saya mengangkat tema-tema yang kurang cocok disajikan kepada masyarakat Indonesia. Makanya saya sungkan menyuguhkannya kepada penerbit untuk dievaluasi. Semuanya karena saya tahu bahwa terlepas dari kemampuan saya untuk menulis naskah tersebut, saya tidak benar-benar ingin menerbitkannya.

Dan mungkin itulah yang juga membuat saya malas menulis belakangan ini. Tidak ada sangkut-pautnya dengan ide cerita yang baik maupun yang buruk. Write with purpose, kata mereka. Mungkinkah dalam perjalanan saya menjadi seorang penulis, saya sudah kehilangan purpose—tujuan—saya untuk menulis?

Ketika saya mencoba mengingat-ingat apa yang menggerakkan diri saya untuk menulis, saya melihat cerminan diri saya dari masa lampau yang terasa begitu berbeda dari diri saya yang sekarang.

Alicia yang menulis 3 (Tiga) adalah seseorang yang merasa kesepian; Alicia yang mendambakan rasanya memiliki sahabat dan berbagi impian bersama mereka.

Alicia yang menulis Unspoken Words adalah seseorang yang merasa bersalah kepada ibunya; Alicia yang berharap diberikan waktu lebih lama dengan orang-orang yang dia sayangi supaya dia bisa meminta maaf.

Alicia yang menulis Polaris Musim Dingin adalah seseorang yang merasa putus asa dengan kehidupan; Alicia yang berusaha menyemangati dirinya sendiri untuk tidak menyerah—untuk berjuang dan tetap hidup untuk satu hari lagi.

Lalu, siapakah Alicia yang sekarang? Alicia yang merasa malas bahkan untuk menulis sebuah cerpen? Alicia yang berhasil menyelesaikan sebuah naskah, namun menolak untuk menerbitkannya? Alicia yang berlindung di balik karya-karya lamanya, berharap dalam diam bahwa suatu saat nanti dia akan bisa menulis dengan semangat yang sama seperti dahulu kala?

Terus terang, saya belum punya jawaban dari pertanyaan itu.

Tapi jika ada satu hal yang saya pelajari dari semua ini, itu adalah sebuah kenyataan sederhana bahwa saya tidak pernah bisa menulis tanpa tujuan. Karena ketika saya menulis tanpa tujuan, itu artinya saya menulis tanpa hati. Dan sebuah karya yang tidak diciptakan dari hati tidak akan pernah utuh—seperti kupu-kupu yang sebelah sayapnya hilang, atau pohon yang berdiri tegap tanpa dedaunan.

Saya berharap, teman-teman pembaca akan tetap sabar menunggu karya baru dari saya, meski saya sendiri tidak tahu kapan saya akan bisa menuliskannya.

Terlebih lagi, saya berharap teman-teman penulis, baik yang sedang dalam kondisi yang mirip dengan saya, yang belum pernah mengalami, dan yang sudah pernah mengalami, agar tetap bisa menulis dengan jujur dan menghasilkan karya dari hati. I’m rooting for you. We are all rooting for you.

4 thoughts on “Perihal Rasa Malas

  1. Ahmad Fauzul says:

    Menulis adalah tentang menuangkan keresahan, tanpa keresahan maka ibarat gelas kita kosong, lalu apa yang dituangkan?

    Semangat Alicia, kemampuan menulismu tidak mati, kauhanya berhenti resah untuk sementara. Tetap semangat berkaryaa! Jangan lupa istirahat..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s