Percakapan Sebelum Matahari Terbit

Source: Flickr

Pagi kemarin, saya terbangun dengan mata yang masih mengantuk.

Mungkin sebenarnya ini bukan sesuatu yang aneh atau janggal, karena toh, pada dasarnya saya memang bukan seseorang yang biasa bangun pagi hari. Bekerja pada sebuah perusahaan swasta yang menuntut saya bangun pagi setiap harinya sama sekali tidak membuat saya terbiasa dengan kegiatan bangun tidur sebelum matahari terbit.

Namun harus saya akui, di saat-saat seperti itulah, ketika saya baru saja terbangun dari tidur saya yang nyenyak, selalu ada momen-momen inspiratif yang selalu menjadi bensin saya untuk bekerja di siang harinya.

Terkadang, bahan bakar ini datang dalam bentuk inspirasi untuk cerita yang sedang saya tulis. Saya bahkan tidak tahu darimana saya mendapatkan ide tersebut, namun biasanya ide tersebut akan selalu datang di saat-saat yang tidak saya duga.

Tapi saya tidak ingin membicarakan tentang ide, atau inspirasi, atau isyarat-isyarat aneh yang didatangkan oleh mimpi kepada kita yang baru saja bangun di pagi hari. Tidak.

Ini adalah tentang percakapan yang saya dengar di pagi hari. Di momen-momen tertentu, ketika saya masih berbaring di ranjang, dan orangtua saya sedang berbincang di ruang makan. Mereka memelankan suara, namun sesekali saya masih bisa mendengar apa yang mereka ucapkan.

Baru-baru ini, saya mendengar percakapan mereka. Tentunya saya tidak bisa memberitahu semua isi dari percakapan tersebut, namun saya sempat menangkap beberapa hal yang menarik.

Pertama, adalah betapa seringnya mereka menyebutkan nama saya dan adik saya, anak-anak mereka. Terkadang perbincangan mereka akan mencakup apa yang saya dan adik saya katakan kepada mereka; betapa kurang ajarnya kami, betapa kami memperoleh prestasi yang membanggakan, atau bahkan kelakuan kami yang mereka anggap konyol.

Selain itu, saya juga menyadari bahwa orangtua saya senang bergosip. Sebagaimana pun mereka berusaha menyangkalnya, mereka menghabiskan 80% waktu mereka berbincang di pagi hari dengan membicarakan orang lain. Entah si A menikah dengan si B yang tidak cantik, misalnya. Atau keluarga si C yang berantakan karena adanya pihak ketiga. Tidak jarang berita yang saya dengar adalah mengenai si D atau si E yang membeli tas baru, atau baju baru, atau sepatu baru, atau mobil baru.

Ini adalah sebuah fenomena yang saya anggap menarik. Sebagai anak, saya dan adik saya hanya mengambil jatah 20% dari isi percakapan mereka. Sisanya mereka dedikasikan untuk orang lain. Tentu saya tidak keberatan, karena bagaimanapun juga, mendengar orangtua saya bergosip tentang diri saya sendiri itu rasanya sangat aneh. Tapi di saat yang sama, saya jadi bertanya-tanya apakah orangtua saya sadar akan kebiasaan mereka tersebut.

Misalnya, anggap saja si A selaku teman baik ibu saya, baru saja dibelikan cincin berlian oleh suaminya. Menurut saya, Itu adalah sebuah berita yang tidak ada salahnya diceritakan. Toh, si A sendiri menceritakannya dengan penuh semangat kepada ibu saya. Jika memang ibu saya ingin ayah saya tahu, kenapa tidak?

Tapi sebenarnya, perbincangan mengenai cincin berlian baru si A tersebut bisa mereka lakukan ketika saya dan adik saya terbangun, tidakkah begitu? Apakah memang topik cincin berlian si A (atau tas baru si B, atau baju baru, atau rumah baru, mobil baru, perceraian, pernikahan, kematian, apa saja, deh) merupakan sebuah topik eksklusif yang hanya boleh dibicarakan ketika hanya ada mereka berdua saja?

Bukankah ada materi perbincangan yang sesungguhnya lebih penting? Jika memang mereka berdua mengalokasikan waktu yang begitu khusus di pagi hari sebelum anak-anak mereka terbangun, tidakkah sebaiknya waktu itu digunakan untuk membicarakan pendapat mereka yang tidak tersaring mengenai anak-anak mereka?

Saya yakin mereka memiliki lebih banyak waktu eksklusif yang tidak saya ketahui. Tapi jika saya melihat dan menjadikan perbincangan di pagi hari ini sebagai cetakan kue dari seluruh percakapan mereka secara umum, maka rasanya mereka tidak akan banyak membicarakan anak-anak mereka. Sebuah pengecualian adalah mungkin ketika mereka baru saja bertengkar dengan anak mereka. Saya, maupun adik saya.

Saya tidak tahu apakah ini sesuatu yang benar, ataukah sesuatu yang perlu diubah. Akan tetapi setiap pagi ketika saya terbangun sebelum ibu saya datang membangunkan, atau sebelum alarm saya berbunyi, saya akan mendengar percakapan antara orangtua saya, dan pertanyaan-pertanyaan di atas kembali muncul ke permukaan.

Mungkin suatu hari nanti saya akan mencoba menyikapi apa yang saya dapatkan dari perbincangan mereka, sama seperti saya menyikapi sambaran inspirasi di pagi hari: mencatatnya.

Atau mungkin merekam, karena jelas sekali kecepatan bicara orangtua saya jauh melebihi kecepatan saya mengetik di smartphone.

Pada akhirnya, saya hanya bisa bertanya-tanya. Tanpa bermaksud menghakimi apa yang mereka lakukan. Malahan saya merasa bersyukur karena orangtua saya masih bisa berkomunikasi dengan terbuka, meskipun dengan cara yang sedikit lucu.

Tapi, persis ketika saya sedang menuliskan posting ini, saya jadi kembali berpikir. Di masa depan, bertahun-tahun dari sekarang, setelah segalanya berubah. Mungkin saya sudah tidak tinggal bersama dengan orangtua saya lagi. Mungkin mereka sudah meninggal dunia; saya tidak pernah tahu kapan itu akan terjadi.

Pada saat itu, mungkin akan ada saat-saat saya terbangun di pagi hari. Beberapa puluh menit sebelum matahari benar-benar terbit. Mungkin saya akan terbangun, kemudian sambil masih berbaring di ranjang, mencoba mendengarkan dengan seksama semua suara yang bisa saya tangkap: suara dengungan AC, ayam yang berkokok, suara motor yang sayup-sayup terdengar dari jalan raya….

Mungkin saya akan termenung di sana, berpura-pura seolah saya masih bisa mendengar suara ibu saya yang bersemangat bergosip tentang cincin berlian si A, rumah baru si B, juga mobil baru si C (juga perceraian, pernikahan, dan semua tetek bengek itu). Juga berpura-pura mendengar respon ayah saya yang lebih banyak netral; kadang diplomatis, kadang seperti berusaha terdengar bijak.

Mungkin, saya akan menunggu-nunggu mereka menyebutkan nama saya dan adik saya. Terselip sebagai sewujud 20% dari isi percakapan sebelum matahari terbit mereka itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s