Poem · Writing Session

Universe

She said she seeks the kind of love that
sends her into the furthest reach
of the universe—
the kind of love that would leave
stardust behind its trails;
the kind of love that would begin from nothing,
and transform into everything
in a single moment as brilliant
as a supernova.

Originally written for a writing prompt sent by @larasatidamar_

Poem · Writing Session

Outlived

Maybe what they say is true

Maybe stars that burn the brightest

tend to die the quickest.

Maybe this is the end of my crusade,

now that I’ve outlived my usefulness;

a carcass whose insides have long died,

latching desperately on the last shred of memories

it has from when it was alive

Short Story · Writing Session

Setelah Musim Dingin Berlalu (3)

—a Polaris Musim Dingin after story.

“Akari-san!”

Perempuan yang baru saja memanggil namaku bergegas menghampiri. Roda koper putihnya berderak melintasi aspal yang tidak rata. Belum ada setahun sejak terakhir kami berjumpa, tapi rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat Nishijima Misaki.

“Maaf, kau sudah lama menunggu?” sambutku sambil membantunya menggeret koper ke sisi lain jalan.

Misaki menggeleng, kemudian tersenyum sangat lebar. “Kyou-san tidak ikut?”

Photo by Hyeim Jang on Unsplash
Continue reading “Setelah Musim Dingin Berlalu (3)”
Short Story · Writing Session

Setelah Musim Dingin Berlalu (2)

—a Polaris Musim Dingin after story.

“Jadi, kau memutuskan untuk berhenti?”

Ryuji terkekeh, kemudian terdiam untuk beberapa saat sampai aku memeriksa ponselku untuk memastikan kami masih tersambung. Dia baru kembali bersuara ketika aku memanggil namanya kembali.

“Iya. Lucu juga, ya? Kukira setelah aku mendapatkan pekerjaan, aku akan bekerja di sini untuk waktu yang sangat lama,” ujarnya dengan lesu. “Tapi kau tahu, Akari-san? Beberapa minggu yang lalu aku bertemu dengan salah seorang teman lamaku, dan setelah mendengar tawarannya bergabung dengan perusahaannya, kurasa aku akan mengiyakannya.”

Continue reading “Setelah Musim Dingin Berlalu (2)”