—a Polaris Musim Dingin after story.
“Akari-san!”
Perempuan yang baru saja memanggil namaku bergegas menghampiri. Roda koper putihnya berderak melintasi aspal yang tidak rata. Belum ada setahun sejak terakhir kami berjumpa, tapi rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat Nishijima Misaki.
“Maaf, kau sudah lama menunggu?” sambutku sambil membantunya menggeret koper ke sisi lain jalan.
Misaki menggeleng, kemudian tersenyum sangat lebar. “Kyou-san tidak ikut?”

“Tidak. Tadi pagi Ryuji sudah datang duluan, jadi dia sedang menemani anak itu sambil menyiapkan beberapa kudapan untuk kita makan nanti malam,” jawabku. “Ryuji sengaja datang dari pagi untuk bantu-bantu di restoran. Dia lupa kalau kami sengaja menutup restoran hari ini supaya kita bisa berkumpul.”
Misaki tertawa lepas. “Tidak heran,” ujarnya. “Memangnya ada apa, sih? Maksudku, aku senang-senang saja berkumpul lagi dengan kalian. Tapi begitu aku dengar dari Ryuji kalau kalian ingin mengumumkan sesuatu, aku jadi penasaran.”
Aku ikut tertawa, tapi memutuskan untuk tidak menjawab dan mengalihkan pembicaraan ke arah topik-topik yang lain. Misaki, yang nampaknya sadar bahwa aku ingin membiarkan berita ini menjadi kejutan baginya dan Ryuji, mengalah dan menyambut pertanyaan-pertanyaanku dengan cerita-ceritanya.
Begitu keluar dari stasiun Otaru, Misaki menarik napas dalam-dalam, kemudian memejamkan matanya. Dia berdiri dalam diam selama beberapa detik, seolah tengah membiarkan warna-warna kelabu dan biru pucat dari seluruh penjuru kota merasukinya. Aku paham yang sedang dia rasakan—kembali ke kampung halamanmu memang akan selalu menjadi sebuah pengalaman yang tidak ada duanya.
Aku percaya setiap kota memiliki jiwanya masing-masing. Dari bunyi langkah setiap pejalan kaki, gesekan roda kendaraan di atas aspal, hingga bunyi lampu lalu lintas di setiap persimpangan yang sahut-menyahut, mempersilakan setiap orang untuk melintas dalam kurun waktu tertentu. Tidak ada dua kota yang sama, seperti halnya tidak ada dua manusia yang benar-benar sama.
Tidak lama kemudian, Misaki mengajakku untuk melanjutkan perjalanan. Dia berjalan setengah melompat-lompat karena senang. Kopernya yang malang terhentak-hentak di atas aspal yang keras setiap kali dia melangkah.
Kami berjalan menyusuri pinggir kanal. Tidak peduli berapa lama pun kami tidak kembali, perjalanan ini selalu terasa dekat di hati. Bagaimanapun juga, kami sudah pernah menempuh rute yang sama ratusan, bahkan ribuan kali.
Sepanjang perjalanan, Misaki bercerita tentang wawancara-wawancara di kota-kota besar. Baru-baru ini dia mengunjungi Nagoya, dan dia begitu terpana melihat betapa di balik gedung-gedung tinggi yang serupa dengan yang ada di kota lainnya, tersembunyi denyut kota yang berbeda: orang-orang yang berpikir dengan cara yang berbeda, berbicara dengan logat yang berbeda, memakan makanan yang berbeda, dan menikmati seni dengan cara yang berbeda.
Dia bercerita tentang lukisan barunya yang masih dia garap. Tentang bagaimana dia sedang mencoba medium baru untuk berkarya—dari cat air, cat minyak, hingga mencampur pewarna tekstil untuk melukis sapu tangan. Pernah, suatu waktu, dia menantang dirinya sendiri untuk melukis hanya dengan menggunakan sedotan.
Mendengarnya bercerita dengan berapi-api, aku jadi teringat akan sosok Misaki yang dulu. Anak perempuan yang menangis di lantai dua Shirokuma Bistro, terluka bukan hanya karena orangtuanya tidak menerima bakat yang dia miliki, tapi karena dia merasa dia tidak memiliki tempat di dunia ini. Karena dia merasa sendirian, seperti sebuah bintang yang terempas jauh dari pusat semesta, berlayar sendirian di ujung angkasa, perlahan-lahan menghilang dari langit dan ditelan kegelapan.
Aku teringat akan Misaki yang mengadakan ekshibisi tunggal. Betapa kecewanya dia ketika tidak ada yang membeli lukisannya. Bagaimana kami, bersama dengan Sensei, berusaha untuk menyemangatinya. Bagaikan memutar ulang sebuah film yang sudah lama tidak kutonton, semua ingatan itu kembali mengisi kepalaku. Sungguh aneh betapa bertemu dengan seseorang dari masa lalumu tak ubahnya seperti masuk ke dalam mesin waktu.
“Misaki-chan,” ujarku akhirnya. Kami sudah menempuh lebih dari separuh jalan dari stasiun ke Shirokuma Bistro, dan ada sesuatu yang perlu kusampaikan padanya sebelum kami bertemu dengan Kyouhei dan Ryuji. Mendengarnya bercerita tentang tempat-tempat yang dikunjunginya—banyak yang belum pernah kujelajahi, membuatku merasa sedikit kesepian. “Apa menurutmu kita masih akan berkumpul seperti ini di tahun-tahun mendatang?”
Misaki menyeka keringat tipis di dahinya, kemudian menatapku dengan sebelah alis terangkat.
“Mungkin Sensei sudah tidak ada bersama kita,” lanjutku. “Dan aku tahu kau dan Ryuji akan menjalani kehidupan kalian masing-masing—mengejar impian kalian masing-masing. Kau akan terus melukis, dan setiap lukisanmu yang baru akan menghantarmu ke tempat-tempat baru. Sekarang di Jepang, tapi mungkin saja suatu saat nanti kau akan pergi mengunjungi tempat-tempat yang namanya tidak bisa kusebutkan.”
Aku teringat akan lukisan Misaki yang memenangkan penghargaan beberapa bulan yang lalu.
“Tapi dari waktu ke waktu, aku harap kita tetap bisa berkumpul di sini,” ujarku. “Kau boleh menganggap ini keegoisanku saja. Aku hanya—”
Aku hanya tidak ingin kalian pergi terlalu jauh dan melupakan tempat ini.
Aku hanya tidak ingin kalian melupakan Sensei.
Aku hanya tidak ingin kalian melupakan kami.
Tanpa bisa meneruskan kalimatku, aku membiarkan keheningan menyergap, menyampaikan pesan-pesan tersirat yang hanya bisa bersuara di dalam batinku. Namun aku tahu Misaki mengerti yang ingin kusampaikan. Dia termenung selama beberapa detik sebelum menengadah, seolah berusaha membingkai langit biru di bulan Agustus—menjadikannya lukisan dalam ingatan.
Kami kembali berjalan, kali ini dalam diam. Tidak lama kemudian, bangunan Shirokuma Bistro yang kukenal pun terlihat. Langkah Misaki melambat, seolah dia tidak ingin kami cepat-cepat sampai. Aku bertanya-tanya apa yang sedang dia pikirkan, atau yang sedang ingin dia ucapkan. Tapi ternyata aku tidak perlu cemas terlalu lama, karena dia segera kembali bersuara.
“Kau tidak usah khawatir, Akari-san,” ujarnya dengan sendu.
Dia mengulurkan tangannya, kemudian menyentuh lenganku pelan. “Kau ingat perjalanan panjang yang kautempuh di musim dingin itu? Berapa ratus kilometer yang kaulalui untuk mencari Sensei? Bagaimana dengan perjalanan Ryuji mengejar impiannya di Tokyo? Atau perjalananku untuk mencari tempat di mana lukisanku bisa diterima orang-orang?”
Aku mengangguk.
“Mungkin hidup ini adalah perjalanan, Akari-san,” lanjutnya. “Perjalanan kita berbeda-beda. Terkadang akan ada orang-orang yang singgah, masing-masing menempuh perjalanan yang berbeda. Agak sedih, memang, ketika orang-orang yang kaukira akan selalu ada dalam hidupmu, ternyata hanya ada untuk sesaat.”
“Tapi perjalanan ini jugalah yang mempertemukan kita dengan Sensei—dengan satu sama lain.”
Senyum tipis kembali merekah di wajahnya. “Aku tidak akan bohong. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Mungkin saja salah satu dari antara kita akan pergi jauh. Mungkin aku, mungkin Ryuji, atau mungkin saja kau dan Kyou-san. Sekarang kita masih memiliki Shirokuma Bistro di Otaru, tapi bisa saja suatu saat nanti kita akan kehilangan bangunan penuh kenangan ini.”
“Tapi selama kita semua masih ingat akan Sensei dan semua yang beliau ajarkan, aku yakin kita tidak akan benar-benar berpisah.”
Kutatap bangunan Shirokuma Bistro di depan kami. Setelah sekian tahun bekerja di sini, aku sudah hafal hampir setiap sudut dan ruangan yang ada di dalamnya. Aku ingat akan setiap perabotnya, dari pernak-pernik kecil yang dikumpulkan Sensei dan dipajang di rak, sampai meja mana saja yang kakinya perlu dialasi kain supaya tidak bergerak ketika digunakan.
Aku membayangkan apa yang akan terjadi seandainya seluruh bangunan ini harus kami relakan. Sakit, pastinya. Tapi apakah aku akan serta-merta melupakan semua yang pernah kami alami di dalamnya? Apakah dengan menjual gedung ini kami juga akan menjual semua kenangan kami bersama Sensei? Bukankah yang terpenting dari bangunan ini adalah kami—orang-orang yang menyebutnya rumah, yang diselamatkan oleh Sensei saat hampir menyerah menempuh perjalanan kami masing-masing?
Kemudian aku tersadar, bahwa sejak hari ketika Sensei menyelamatkan kami, kami tidak pernah benar-benar sendiri lagi. Bahkan sampai hari ini, ketika suara beliau semakin samar dalam ingatan, semangat hidup beliaulah yang akan selalu hidup di dalam diri kami.
Jika hidup adalah sebuah perjalanan, maka Sensei telah mempersatukan kami dalam perjalanan ini. Dan tidak peduli seberapa jauh pun perjalanan ini akan membawa kami, kami akan selalu memiliki satu sama lain untuk bisa pulang.
Kulirik Misaki, yang sedang ikut menatap bangunan Shirokuma Bistro dengan tatapan penuh rindu. Seandainya Sensei masih ada, aku bertanya-tanya apakah beliau akan bangga melihat betapa jauh anak perempuan ini sudah berjalan. Aku bertanya-tanya apakah beliau masih akan mengkhawatirkan kami, anak-anaknya yang lain.
Aku tertawa pelan.
Mengetahui Sensei, beliau tidak akan khawatir sepertiku.
Beliau akan tetap ada di sini, di balik pintu Shirokuma Bistro, memasak masakan yang biasa beliau masak, mengenakan pakaian yang biasa beliau kenakan. Kerutan-kerutan baru akan timbul di wajahnya, dan rambutnya akan semakin memutih, tapi senyum beliau akan merekah semakin lebar.
Misaki benar. Bukanlah jarak atau waktu yang mengikat kami ke bangunan ini—kepada satu sama lain. Apa yang Sensei bagikan kepada kami, bertahun-tahun yang lalu ketika kami masih jauh lebih muda dan lugu, akan selalu hidup di dalam diri kami.
Mungkin suatu saat nanti aku akan menempuh perjalanan lain.
Ke Hakodate. Aomori. Tokyo. Osaka. Fukuoka. Kagoshima. Ke pelosok Jepang yang lain. Ke luar Jepang—aku tidak tahu.
Tapi satu hal yang aku yakini—aku akan selalu kembali ke sini.
“Misaki-chan,” ujarku kemudian. “Jadi bagaimana rasanya kembali ke Shirokuma Bistro setelah menempuh perjalanan yang begitu panjang?”
Dari balik pintu restoran, aku bisa mendengar suara tawa Kyouhei dan Ryuji. Entah apa yang sedang mereka lakukan di dalam sana.
Misaki menoleh ke arahku dan tersenyum lebar. “Rasanya seperti pulang.”
